Select language : EN | BH
Hubungi kami di
Gleneagles Hospital
Hubungi kami di
Mount Elizabeth Orchard
Mount Elizabeth Orchard
Gleneagles Hospital

Skrining infeksi virus Hepatitis B (HBV) bertujuan mengidentifikasi antibodi yang dihasilkan tubuh ketika melawan infeksi HBV. Selain itu, skrining ini juga dapat digunakan untuk mengetahui antigen yang dihasilkan dari keberadaan virus, sekaligus keberadaan DNA virus.

Apalagi fungsi dari skrining ini:

  • Untuk memeriksa apakah gejala pasien dihasilkan dari infeksi HBV. Sebagai bagian dari diagnosis, dokter mungkin perlu melakukan antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) dan skrining IgM (antibodi inti hepatitis B). Sedangkan untuk menentukan virus penyebab infeksi, diperlukan tes hepatitis A (HAV) dan hepatitis C (HCV).
  • Untuk memantau infeksi hepatitis B kronis, sekaligus pengaruh pengobatan yang diberikan.
  • Untuk mengawasi kambuh-tidaknya virus pada pasien dengan paparan sebelumny

Meski demikian, terdapat juga alasan lain untuk melakukan skrining hepatitis B. Antara lain:

  • Pengujian di populasi berisiko untuk terjadinya infeksi kronis.
  • Skrining donor darah untuk menghindari kontaminasi silang. Pemindaian ini akan menentukan apakah pasien membawa (carrier) virus Hepatitis B atau tidak.
  • Mendeteksi infeksi sebelumnya dan setiap perkembangan berikutnya dari imunitas.

Agar mengetahui penyebab gejala yang diamati, biasanya dokter hanya melakukan satu set tes infeksi HBV sebagai penentu awal. Sedangkan tes khusus lainnya dapat dilakukan setelah diagnosis. Misalnya untuk kebutuhan pemantauan penyakit. Atau, untuk mengetahui apakah seseorang membawa virus atau tidak.

Berikut adalah beragam tes yang biasanya untuk skrining awal infeksi HBV.

  • Antigen Permukaan Hepatitis B (HBsAG): Tujuannya mendeteksi jenis protein yang ada pada permukaan virus. Hasilnya dapat dijadikan indikator awal kehadiran virus dan mungkin positif pada pasien sebelum gejala muncul.
  • Antibodi Permukaan Hepatitis B (anti-HBs): Tes ini mendeteksi antibodi yang diproduksi tubuh saat melawan kehadiran antigen HBV. Caranya? Dengan mengkaji paparan sebelumnya. Melalui teknik ini, dokter dapat mengetahui apakah seseorang memiliki kekebalan atau perlu divaksinasi.
  • Inti total anti-hepatitis B (anti-HBc, IgM dan IgG): Tujuannya mendeteksi, mendiagnosa infeksi HBV akut dan kronis.
  • Inti anti-hepatitis B (anti-HBc), IgM: Tujuannya mengidentifikasi infeksi akut dan kronis.
  • Hepatitis B e-antigen (HBeAg): Mendeteksi protein yang telah diproduksi tubuh sebagai reaksi terhadap virus, kemudian dilepaskan ke dalam darah. Melalui tes ini, dapat diketahui juga kemampuan pasien untuk menyebarkan virus ke orang lain.
  • Anti-Hepatitis e-antibody (Anti-HBe): Mendeteksi antibodi yang diproduksi oleh tubuh sebagai respon terhadap kehadiran hepatitis B. Tes ini digunakan untuk memantau pasien yang telah sembuh dari infeksi hepatitis B akut.
  • DNA Virus Hepatitis B: Tes ini digunakan untuk mendeteksi keberadaan DNA virus hepatitis B dalam darah. Jika hasilnya positif, itu pertanda virus aktif. Tes ini juga berfungsi untuk memantau perkembangan pengobatan pasien yang terinfeksi HBV kronis.
  • Mutasi Resistansi Virus Hepatitis B: Tes ini mengidentifikasi mutasi penyebab virus kebal terhadap pengobatan. Dengan begitu, dokter dapat menentukan perawatan yang tepat untuk pasien tersebut.

Meskipun skrining yang tercantum di atas dikhususkan untuk HBV, tes-tes lainnya seperti aspartate aminotransferase (AST), alanine aminotransferase (ALT), dan gamma-glutamyl transferase (GGT) dapat dilakukan untuk mengamati perkembangan penyakit lebih lanjut. Dokter bahkan dapat melakukan biopsi hati untuk menentukan tingkat kerusakan hati.

Kapan Skrining Hepatitis B Dilakukan

Tepatnya ketika pasien menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang berhubungan dengan infeksi, seperti:

  • Demam
  • Kelelahan
  • Kehilangan selera makan
  • Muntah
  • Sakit perut
  • Urine berwarna gelap
  • Tinja berwarna pucat
  • Sakit kuning

Dr Victor Lee Tswen Wen

Senior Consultant Surgeon
MBBS (Singapura), FRCS (Edinburgh), MMed (Bedah), MSc (Bioinformatika),
FAMS (Bedah Umum)

Dr Victor Lee adalah dokter bedah yang berpraktik di Rumah Sakit Gleneagles Singapura dan Rumah Sakit Farrer Park. Spesialisasinya meliputi operasi besar organ hati, kandung empedu, saluran empedu dan pankreas. Dia juga menguasai teknik invasive minimal seperti laparoskopi untuk kantong empedu, operasi hernia dan juga teknik microwave ablasi untuk pasien yang tidak cocok untuk operasi terbuka.

Perawatan untuk kondisi hepatobilier,yang mempengaruhi hati dan kantong empedu,merupakan penanganan kompleks dan membutuhkan keahlian khusus untuk menangani secara efektif.

Untuk konsultasi atau mendapatkan penanganan, silahkan hubungi klinik kami di 6737 8878 atau kirim pesan kepada kami di sini.
Kesehatan anda adalah prioritas kami dan kami akan segera menghubungi Anda.

Top